Sayang Sabah Facebook

Likes
Sayang Sabah Twitter

11,668

Followers

Sayang Sabah - Portal Berita Negeri Kita

Tawakal dan Keimanan

10:49am 13/11/2015 Zakir Sayang Sabah 18 views i-Muslim
Gambar Hiasan

Gambar Hiasan

Sifat Tawakal dan Keimanan adalah sangat dekat. Di antara firman Allah SWT tentang tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).

Dan firman-Nya,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).

Tentunya masih banyak ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi tentang tawakal, demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apakah itu sebenarnya tawakal? Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas lebih terperinci mengenai tawakal.Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyuruh kita agar bertawakal apabila memiliki cita-cita. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tawakal tersebut?

Islam mengajarkan untuk menyertakan Jiwa Tawakal dalam  proses pencapaian suatu cita-cita. Suatu urusan dan pemikiran dapat dikategorikan menggunakan Tawakkal Principles apabila mengandung empat unsur.   Berikut adalah 4 unsur tersebut :

1. Mujahadah

Mujahadah diambil dari kata jahada, ertinya sungguh-sungguh. Allah SWT memerintahkan agar kita sungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, jangan melaksanakan kerja sekadar melepaskan batuk di tangga. Kalau kita jadi mahasiswa, belajarlah bersungguh-sungguh dan selesaikan tugasan tepat pada waktunya. Kalau kita jadi peniaga, berikan pelayanan dan produk yang terbaik agar pelanggan merasa puas menggunakan produk yang kita jual. Kalau kita jadi pekerja, selesaikan pekerjaan mengikut matlamat agar pihak pengurusan menilai positif cara kerja kita, dan lain-lain.

Ini semuanya dikategorikan mujahadah. Mujahadah, selain bermakna bersungguh-sungguh, juga bermakna sistematik. Suatu pekerjaan hasilnya akan menggembirakan apabila dilakukan dengan kesungguhan dan sistematik, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut,  “Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah
bekerja keras untuk urusan berikutnya, dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya kamu berharap.” ( Q.S. Asy-Syarĥ [94]: 7-8)

2. Doa

Allah SWT memiliki kekuasaan tak terhingga, sedangkan kita memiliki banyak kelemahan. Sebab itu, walaupun sudah melakukan mujahadah, kita harus memohon kekuatan dari Allah SWT agar pekerjaan mampu diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang selalu berdoa, memohon pertolongan-Nya. Apabila kita sering mengingat-Nya dalam segala urusan, Allah pun akan menolong kita, dan kalau kita melupakan-Nya, Dia pun akan melupakan kita.

3. Syukur

“Ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah ke pada-Ku dan jangan kamu mengkufuri nikmat-Ku.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 152)

Apabila mujahadah dan doa menyertai seluruh urusan dan pemikiran kita, insya Allah kejayaan yang kita raih akan mengantarkan pada rasa syukur. Prinsip ini perlu kita pegang kerana kejayaan sering mengantarkan manusia pada keangkuhan, padahal angkuh adalah sifat yang paling dimurkai Allah SWT. Apabila kita pandai bersyukur, Allah SWT. akan semakin menambah nikmat-Nya.

“…Sesungguhnya, jika kamu ber syukur, niscaya Aku akan me nambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu meng ingkari nikmat-Ku, pasti azab-Ku sa ngat berat.” ( Q.S. Ibrāhīm [14]: 7)

4. Sabar

Sabar ertinya tahan uji menghadapi berbagai cubaan. Mungkin saja kita telah bekerja keras, sistematik, dan di sertai doa, namun sangat mungkin hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Sabar adalah ubatnya. Sabar bukan diam dan meratapi kegagalan, tetapi sabar adalah mengintrospeksi diri dan bekerja lebih baik lagi agar kegagalan tidak terulang kembali.

“…Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu. Tetaplah waspada…” ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 200)

Inilah prinsip-prinsip tawakal yang harus melandasi seluruh urusan dan pemikiran kita. Apabila hal ini dilakukan, kita akan sedar bahawa kemenangan, kejayaan, dan keberhasilan tidak akan mampu diraih tanpa pertolongan-Nya.

Kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana kebergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya.

(Sumber: PercikanIman.org)

Apa Komen dan Pendapat Anda

Artikel Berkaitan