Sayang Sabah Facebook

Likes
Sayang Sabah Twitter

11,728

Followers

Sayang Sabah - Portal Berita Negeri Kita

Solat dan Kedisiplinan

1:08pm 23/11/2015 Zakir Sayang Sabah 55 views i-Muslim
Gambar Hiasan

Gambar Hiasan

Solat selain ibadah yang langsung diperintahkan oleh Allah sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya ternyata menyimpan banyak hikmah selain secara spiritual juga menyihatkan, solat juga sarat dengan manfaat. Salah satunya adalah menanamkan dan mengajarkan kedisiplinan. Ketaatan atau disiplin dimulai dari niat, berwudlu, dari awal solat, takbir hingga salam. Dapat dikatakan, solat mengandung makna pendidikan kedisiplinan mental dan spiritual. Seorang muslim yang sentiasa mampu menjaga solatnya, akan melekat dalam dirinya nilai-nilai disiplin. Berikut penjelasannya:

  1. Disiplin Dalam Kebersihan (Berwudhu)

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Itu cerminan Islam agama yang mencintai kebersihan. Ini tercermin dari ritual berwudhu. Sebuah persiapan buat badan kita sebelum solat. Seperti yang diterangkan Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak solat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki….” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 6).

Sebelum menghadap-NYA, badan kita dibersihkan terlebih dahulu dengan berwudhu. Wudhu adalah hal yang pertama dan utama sebelum melaksanakan solat. Tingkat kesempurnaan berwudhu akan mempengaruhi tingkat kesempurnaan ibadah solat kita. Maka agar kesempurnaan dalam berwudhu dapat kita capai, maka kita harus menumbuhkan tentang hakikat wudhu yang diakhiri dengan doa setelah wudhu sebagai tawakal kita kepada Allah SWT.

Dapat dibayangkan jika konsep kebersihan ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesan muslim kotor dan tidak menjaga kebersihan dapat dibuang jauh-jauh.

  1. Disiplin Dalam Waktu

Solat juga mengajarkan kepada kita untuk menghargai waktu. Ini kerana solat tepat waktu melainkan terhindar dari hal-hal yang boleh mendatangkan kebencian Allah SWT, seperti menunda-nunda waktu dengan sengaja kerana lebih mementingkan atau menganggap lebih utamanya melakukan urusan keduniaan, padahal masih memungkinkan untuk ditunda. Perbuatan ini termasuk telah melalaikan solat, jelas hal ini adalah perbuatan dosa.

Sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an : “Ingatlah Tuhan dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah/lalai” (Q.S. Al-A’raf [7]: 205), dan ayat selanjutnya, yang menerangkan jangan ada keraguan untuk mensucikankan-Nya dan bersujud kepada Allah SWT.

Jika disiplin waktu ini kita terapkan, maka kita membuang jauh-jauh budaya lambat masuk pejabat, terlambat ikut meeting, berlengah-lengah dengan waktu saat ujian sekolah datang, dan sebagainya.

  1. Disiplin Dalam Mengerjakan Aturan

Hidup penuh dengan aturan. Baik aturan negara, lingkungan, sekolah, bahkan rumah. Solat mengajarkan kita untuk mentaati aturan yang telah ditetapkan.  Ketaatan kepada aturan Allah SWT juga dapat ditunjukkan saat sebelum solat dimulai. Menjaga aturan saf bukan saja tanggungjawab Imam, melainkan makmum pun memiliki tanggungjawab besar dalam meluruskan dan merapatkan barisan. Di sinilah kedisplinan atau ketaatan seseorang di uji dalam persiapan solat berjamaah.

Sesungguhnya meluruskan dan merapatkan barisan tidak hanya tanggungjawab imam, tetapi masing-masing makmum harus sedar untuk meluruskan dan merapatkan saf ketika solat berjamaah hendak dimulai. Nabi saw. bersabda, “Luruskan saf (barisan) kalian, kerana lurusnya saf bahagian dari kesempurnaan solat” (H.R. Muslim).

Banyak aturan solat lain yang harus dipenuh, diantaranya rakaat dalam setiap solat, waktu setiap solat yang berbeza, aturan lafaz solat, takbir, ruku, sujud, dan lain-lain, penuh dengan aturan. Intinya, orang tua yang terbiasa solat seharusnya lebih mentaati aturan yang berlaku buat dirinya.

  1. Disiplin Memilih Kepemimpinan dan Keadilan

Islam sangat adil. Syarat menjadi Imam bukan dilandaskan pada senioriti, tapi kemampuannya melafazkan bacaan dan wawasan yang dimiliki. Kulit hitam boleh menjadi Imam bagi kulit putih. Orang Asia boleh menjadi imam bagi orang Eropah. Melewati batas suku dan ras. Dalam menentukan Imam Solat, angkat atau tunjuk seseorang untuk menjadi imam solat. Pilihlah imam yang mampu mententeramkan makmum. Imam yang baik bacaannya dan luas pengetahuan agamanya, tentu akan lebih menenangkan makmum daripada imam yang bacaannya kurang jelas dan kurang wawasan agamanya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaiknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling hafal dan faham terhadap Al-Qur’an. Jika kemampuan itu sama, yang paling tahu tentang sunah, tetapi jika kemampuan itu sama, yang paling dulu hijrah, dan jika sama, yang paling dulu Islamnya,”(H.R Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary r.a).

Akan tetapi, jika pada kenyataannya tidak terdapat imam seideal sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist di atas, penentuan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saja. Apabila tidak ada orang dewasa yang hendak mengimami shalat boleh mengangkat imam dari kalangan anak-anak dengan syarat dia memiliki kemampuan bacaan Al-Qur’an yang bagus dan banyak hafalannya.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila hadir waktu solat, hendaklah salah seorang di antara kamu azan dan angkatlah imam yang paling hafal Al-Qur’an. ‘Seorang sahabat berkata, ‘Maka mereka tidak ada seorang pun yang paling hafal Al-Qur’an daripada aku, maka mereka menyuruhku menjadi imam padahal aku anak berusia enam atau tujuh tahun” (H.R. Bukhari). []

 

(Sumber dari Percikiman.org di ambil dari buku “Sudah Benarkah ShalatkuPanduan Gerakan dan Bacaan Shalat,” Karya Dr.Aam Amiruddin).

 

Apa Komen dan Pendapat Anda

Artikel Berkaitan