Sayang Sabah Facebook

Likes
Sayang Sabah Twitter

11,730

Followers

Sayang Sabah - Portal Berita Negeri Kita

Hakikat Syukur Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

12:02pm 18/01/2016 Zakir Sayang Sabah 56 views i-Muslim
Gambar Hiasan

Gambar Hiasan

Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus.

Allah menyebut Diri-Nya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (Asy-Syakur) dalam erti yang meluas. Maksudnya, Dia akan membalas para hamba atas syukur mereka. Membalas syukur juga disebut sebagai syukur.

Ada pula ahli hakikat yang mengatakan bahawa hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi (al-muhsin) dengan mengingat-ingat kebaikannya.

Syukur hamba kepada Allah bererti memuji-Nya dengan mengingat-ingat kebaikan yang Dia berikan. Sedangkan syukur Allah kepada para hamba adalah pujianNya atas si hamba dengan menyebut (menyanjung) kebaikannya.

Kemudian, kebaikan budi pekerti seorang hamba adalah ketaatannya kepada Allah, dan kebaikan Allah adalah kemurahan-Nya memberi nikmat kepada hamba-Nya. Syukur hamba yang sebenarnya adalah pengakuan lisan dan ketetapan hati akan nikmat yang diberikan Tuhan.

Syukur dapat dibagi menjadi beberapa macam:

#1 Syukur dengan lisan, yakni mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh pujian dan ketundukan.

#2 Syukur dengan anggota tubuh, yakni dengan komitmen pemenuhan hak dan kewajiban, serta pengabdian.

#3 Syukur dengan hati, yakni bersimpuh di atas permaidani syuhud (penyaksian Allah) dengan mengekalkan penjagaan kesucian (kehormatan).

Sebagai contoh, bentuk syukur mata adalah dengan menutupi aib yang engkau lihat pada diri temanmu. Syukur telinga adalah menutupi aib yang kau dengar darinya. Syukur orang yang alim terwujud dalam keseluruhan ucapannya.

Syukur ahli ibadah terwujud dalam perbuatannya. Syukur kaum ahli makrifat terwujud dengan sikap istiqamah mereka di jalan Allah dalam banyak keadaan (ahwal) mereka. Keyakinan mereka bahwa semua kebaikan yang mereka jalani, dan ketaatan, penghambaan, serta dzikir yang mereka jalankan, semuanya berkat taufik, nikmat, pertolongan, dan daya upaya Allah.

Pengakuan tentang kelemahan, kehinaan, kebodohan, kemiskinan dan kefakiran mereka di depan Allah juga merupan bentuk syukur para ahli makrifat.

Abu Bakar Al-Warraq juga mengatakan, “Mensyukuri nikmat bererti menyaksikan anugerah dan menjaga kesuciannya.”

–Dikutip dari kitab Mawa’izh al-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, muhaqqiq Shalih Ahmad dan Syekh Tosum Bayrak.

(Sumber: Tazkirah.net, oleh Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

Apa Komen dan Pendapat Anda

Artikel Berkaitan